(Oleh: Hendrikus Haluan, S.Pd )
Waktu
berjalan terus sehingga yang paling lama berlalu disebut sebelum masehi
sedangkan yang akan datang apakah sampai kiamat. Penulis adalah termasuk
pemerhati bahasa daerah yaitu bahasa daerah penulis sendiri yakni bahasa daerah
Manggarai-Flores-NTT.
Hasil
pengamatan penulis mengenai bahasa daerah Manggarai mengalami fenomena yang
terancam punah karena penutur bahasa daerah Manggarai itu sudah tidak begitu
kenal bahasa-bahasa kias, yang mengandung filosofi kehidupan yang bermakna
tinggi sebagai warisan moyang yang merupakan warisan non benda seperti
istilah-istilah orang tua dulu yang syarat dengan pesan atau amanat dalam hidup
ini.
Kekhawatiran
akan ancaman kepunahan itu maka penulis menyimpan sebagian kecil dari
istilah-istilah bijak itu dalam tulisan ini sebagai rekomendasi kepada generasi
muda untuk tetap mencintai bahasa daerah. Jika anda mengapresiasi bahasa
daerahmu, maka anda termasuk orang yang menghargai budaya luhur nenek moyang.
Berikut
ini penulis memaparkan sebagian kecil dari kata-kata mutiara yang penulis sebut
sebagai kalimat bijaksana dalam bahasa manggarai langsung dengan kalimat
terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
1. Deta nggera, lai pa’it
artinya haruslah berjuang dan berkorban untuk meraih kesuksesan.
2. Lui tuni dempus wuku
artinya harus kerja keras.
3. Kantis ati, rancang
rak artintya harus didorong oleh suatu motivasi yang kuat sebagai rangsangan
untuk melakukan sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.
4. Neka kus serumbu merik
weki artinya jangan berkecil hati atau minder apalagi rendah diri
5. Radaker data langkaser
dite artinya cita-cita harus lebih tinggi dari yang lain asal jangan sombong.
6. Neka picik rici titok
riwok artinya jangan mau yang sisa atau yang kecil-kecil yang tak berguna.
7. Langkas haeng tala uwa
haeng wulang artinya gantungkan cita-citamu sampai ke bintang atau ke bulan.
8. Beci mongko laing mo
beci kope laing kole artinya kita pergi sekolah untuk ditempa dan mendapat
ilmu.
9. Naa kole amen kaba rae
naa kole empon kaba lenggor artinya seperti apa bapanya, maka seperti itu pula
anak dan cucunya.
10. Doal cokang todo
longko artinya yang tua tumbang yang muda tunas
11. Lema botot betong
artinya pandai berbicara dan menang berdebat
12. Neka lumbas mata,
neka mejeng hese artinya jangan loyo, tetapi harus cekatan dan lincah
13. Neka caka le rantang
dii le sihing artinya jangan takut dan jangan ragu atau bimbang
14. Maram bakok toko,
neka bakok mata artinya lebih baik putih tulang daripada putih mata
15. Kope wajak, kurung
wari artinya orang yang pamornya kuat dan berkarisma
16. Riang tana tiwa, lami
tana taki artinya jaga tanah pusaka moyang
17. Riang tana tiba, lami
tana tai artinya jaga tanah warisan
18. Toe laling wai toe
hesot ceko artinya berpendirian kuat tidak bisa dipengaruhi oleh siapa dan oleh
apapun
19. Haeng tae, repeng
pede artinya dapat amanat atau wasiat
20. Toe dung one gurung ,
teka one belang artinya dari turunan yang jelas asal usulnya.
21. Pateng lembur pene wa
wae toe laes, pari eta bobong toe bowok artinya prinsip kebenaran yang tak
lapuk oleh air dan tak lekang oleh panas.
22. Sai welu lalok jaong
toe paka lako, linga roto niang artinya otak kosong, omong kosong, pendapatan
kosong.
23. Bokok neho nol-ciki
neho ri’i artinya tumbuh sehat dan berkembang biak
24. Wua wene lebo kala
artinya berbuah dan bertunas dengan baik
25. Tehok ruha rana aok
ca kampong artinya baru mulai suatu usaha, tapi sudah tersiar dimana-mana
26. Nu joeng tuka koe, nu
tendeng tuka mese artinya rasa syukur dan gembira yang luar biasa.
27. Nai ngalis, tuka
ngengga artinya harus hati lapang dan bijaksana
28. Petu tolang, wa
lemang artinya membawa misi khusus untuk suatu tujuan tapi jangan lupa pesan
dari yang mengutus.
29. Duha le wuat, cama le
bantang artinya direstui karena sudah musyawarah dan sepakat.
30. Waheng tau nae, kakal
tau langkas artinya dibina supaya lebih dewasa dan lebih bijaksana
31. Puli putus le raja
wunut, puli bete le raja bele artinya apa yang sudah diputuskan tidak bisa
diingkari lagi (pegang amanah).
32. Ndewut dencang,
mbalang salang artinya sering dan sudah biasa dilakukan sehingga tidak perlu
lagi bertanya kepada siapapun.
33. Bo jaong haen pake,
toe nuk run rukus artinya selalu mengatakan kekurangan orang lain, sesungguhnya
diri sendiri jauh lebih kurang dari orang yang dikatakan itu.
34. Maram waen tau hae,
maram rukus tau ru artinya selalu mementingkan diri sendiri atau selalu
menguntungkan diri sendiri
35. Tua tuka tuna artinya
tidak mau berbagi dengan yang lain
36. Dia pande dia ita,
daat pande daat ita artinya apa yang ditabur itu yang dituai
37. Waer jarang lusi
artinya anak dari orang pandai bijaksana
38. Gancu mu’u artinya
kelolosan bicara tidak hati-hati
39. Bike rewut artinya
hancur lebur berkeping-keping
40. Hung toe tana, denger
toe banta artinya tidak bersyukur bahwa ia dari turunan orang baik-baik.
41. Porong neka jojar
nawa, neka mbarang wakar artinya jangan berkelana jiwanya dan meraung-raung
kalbunya (harus ada yang mengayomi)
42. Dia cica agu angkos jaong artinya tau sopan
santun saat menyampaikan pendapat dimuka umum
43. Lau-lau hang wua
sa’u, lele hang tana dereng artinya sumpah serapah untuk mendatangkan kutukan
bagi seseorang yang serakah
44. Long latung coko,
woja wole artinya migrasi untuk merubah nasib
45. Api toe caing wae toe
haeng artinya sudah tidak berdaya hanya tidur menanti ajal
46. Ceru mawo pari behe
latung pene artinya ingin punya anak mantu wanita untuk membantu pekerjaan
dirumah, seperti menumbuk padi dan jagung
47. Olo tokong banta
bowok artinya bersemedi untuk memohon petunjuk
48. Duat le gula wee le
mane artinya pergi jangan lupa pulang atau pergi pagi pulang sore
49. Ek baling lele, ak
baling recap artinya berharap kehadiran momongan dalam keluarga
50. Uwa tana rencut awang
artinya tidak berdaya karena dihimpit oleh kasus
51. Pai’it laing tai,
minak laing tiba artinya susah sekali memberi, enak waktu menerima
52. Rungkangn ome nu ruha,
wulun ome nu manuk yang berarti syukurnya yang penting bukan menu apa yang
dihidangkan saat suatu acara
53. Kope harat baling
artinya mengambil keuntungan dari dua belah pihak yang sedang bersengketa
54. Kope toe hang ta’i
artinya sudah tidak punya pamor lagi
55. Kope ta’i pa artinya
jarang dipakai atau digunakan
56. Kope botot lali
artinya sudah sangat terlatih dan cerdas
57. Kope ndegal artinya
sudah tua renta dan sudah tidak berpengaruh lagi.
58. Runing kaka muit oke
musi, runing kaka polo oke olo artinya tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun.
59. Rewung menggu, leso
kolang artinya mengalami berbagai cobaan.
60. Padir wa’i rintuk sa’i
artinya berkumpul dan bersatu.
61. Ca laing serumbu, sua
laing ninu artinya hidup sebatang kara.
62. Mu’u tungku letang
lemba artinya juru bicara atau perantara.
63. Kode hae ndole,
motang hae ota artinya terasing dari keramaian.
64. Wuwung cembet, wai
wara artinya masih anak-anak belum dewasa
65. Pola neka gomal, kapu
neka pau artinya pegang baik-baik amanat yang sangat berharga dari orang tua
atau keluarga.
66. Tapa na banta baca
artinya sulit menjadi
67. Toe mek bike leke
cebong artinya belum dewasa
68. Bike leke cebong’n ga
artinya sudah dewasa
69. Rantang besung laing
artinya takut kualat
70. Bike wangka ise empo
danong artinya pada dua daerah yang berbeda mempunyai kesamaan budaya
71. Tempak toe retang, ki’i
toe ringis artinya tahan banting
72. Ligeng kabo artinya
istri dua (poligami)
73. Neka hemongs ceki
artinya jangan lupa tradisi keluhuran moyang
74. Kewit tau nek artinya
undangan untuk memenuhi syarat sebenarnya tidak diharapkan kehadirannya.
75. Neka cuba laing
rungangna artinya jangan nekat saat situasi gawat
76. Laing lu’u one mata,
irus one isung artinya dalam situasi duka
77. Lontong butek artinya
tidak pergi ke kebun karena ada yang meninggal di kampung
78. Pota randang artinya
nonton keramaian
79. Toe binto bilor, toe
tinang imar artinya habis tidak ada yang tersisa
80. Cekeng-kelang artinya
tanam saat musimnya pasti jadi
81. Cuba agu cebu artinya
nekat tanpa mempertimbangkan resikonya
82. Hang cama nakeng
panggang cuki cama deko lewe artinya harmonis, sama-sama senang , sama-sama
susah
83. Buncu ngampang
cama-cama, buncu ngali cama laing artinya sama-sama tanggung resiko.
PUISI:
WATU
NGGOANG
Cake
toe ngance
Dur
toe nggusur
Soet
toe nggolet
Tapa
toe gak
Oh
Watu Nggoang
Watu
empo moyangku
(Gambar 1. Foto Keluarga Bapak Hendrikus Haluan di Batu Nggoang)